Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah menilai industri otomotif memiliki peran strategis sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional. Kontribusi sektor ini terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat signifikan dan menempatkannya sebagai salah satu industri manufaktur terbesar di Indonesia.
Deputi Perniagaan Ekonomi Digital Ali Murtopo mengatakan, pada triwulan III 2025 industri otomotif menyumbang sekitar 1,28 persen terhadap PDB nasional. Capaian tersebut menempatkan sektor otomotif sebagai industri keempat terbesar setelah industri makanan dan minuman, kimia farmasi, serta elektronik.
"Nah, khusus untuk otomotif kalau kita perhatikan bagaimana picture-nya dan peranannya kepada perekonomian kita ya cukup besar terhadap pembentukan PDB kita di 1,28 persen di triwulan III-2025," ujar Ali dalam EVolution Indonesia Forum yang diselenggarakan oleh CNN Indonesia, Selasa (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, peran industri otomotif tidak hanya terlihat dari kontribusi langsung terhadap PDB. Sektor ini juga memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan yang luas sehingga melibatkan banyak subsektor dan pelaku usaha.
"Kalau dari sisi backward forward juga melibatkan ekosistem yang sangat luas. Dan itu yang meyakini kita bahwa industri otomotif ini sangat penting untuk kita jaga," kata Ali.
Menurut Ali, industri otomotif juga menjadi simbol kemajuan teknologi dan ekonomi sebuah negara. Untuk itu, pemerintah menaruh perhatian besar terhadap keberlanjutan dan penguatan sektor ini.
"Otomotif ini juga menjadi simbol kemajuan teknologi maupun ekonomi sebuah negara," ucapnya.
Pemerintah, lanjut Ali, akan terus mendorong pengembangan industri otomotif melalui kebijakan yang mendukung investasi dan inovasi. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kontribusi sektor otomotif terhadap perekonomian sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di tingkat global.
"Kita tahu bersama bagaimana untuk otomotif khususnya EV ini juga sudah sangat diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh negara, baik melalui insentif fiskal maupun non fiskal," pungkasnya.
(ldy/ins)

















































