Jakarta, CNN Indonesia --
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mengungkap produk baja murah asal China telah menekan industri baja nasional, hingga membuat produksi dalam negeri melemah. Masuknya baja impor berharga rendah dinilai mendistorsi pasar dan menggerus daya saing produsen baja nasional.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan dampak paling nyata terlihat dari rendahnya tingkat utilisasi pabrik baja di Indonesia yang hingga kini masih berada di bawah 60 persen.
"Ini karena pasar diisi produk-produk baja murah dari Tiongkok. Kami hitung kurang lebih potensi impor Indonesia dari kebutuhan baja kurang lebih ekuivalen hampir mencapai Rp80 triliun per tahun," kata Akbar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain impor, Akbar menyoroti relokasi pabrik baja asal China ke Indonesia yang telah berlangsung sekitar 10-12 tahun terakhir dengan penggunaan teknologi induction furnace (tungku induksi).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperketat persaingan dan menambah tekanan bagi industri baja nasional di tengah ketidakpastian global.
"Induction furnace ini yang kemarin juga ada hubungannya dengan mengimpor scrap yang tercemar bahan nuklir. Ini dampaknya bisa kemana-mana," ucap Akbar.
Tekanan itu turut berdampak pada operasional industri baja dalam negeri. Akbar mengungkapkan salah satu joint venture Krakatau Steel, Krakatau Osaka Steel, akan menghentikan operasinya pada April mendatang. Sebelumnya, penutupan pabrik baja long product juga terjadi di Surabaya karena tidak mampu bersaing dengan maraknya impor baja murah.
Untuk merespons kondisi tersebut, Krakatau Steel mengajukan lima dukungan kepada pemerintah, mulai dari penataan tata niaga impor, percepatan bea masuk anti-dumping, penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), hingga perluasan kewajiban Standar Nasional Indonesia (SNI) guna melindungi industri baja nasional.
Di tengah tekanan industri, Krakatau Steel mencatatkan perbaikan kinerja keuangan.
Akbar menyebut perseroan membukukan pendapatan sebesar US$955 juta atau sekitar Rp16 triliun (asumsi kurs Rp16.790 per dolar AS) pada 2025 atau tumbuh 0,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didukung transformasi operasional, efisiensi biaya, dan fokus pada segmen dengan margin tinggi.
Selain pendapatan, volume penjualan baja Krakatau Steel juga tumbuh signifikan sebesar 29 persen menjadi 945 ribu ton sepanjang satu tahun terakhir, seiring upaya perseroan memperkuat fundamental perusahaan dan memperluas kembali akses pasar.
(lau/ins)

















































