Jakarta, CNN Indonesia --
Aksi aliansi mahasiswa di Mabes Polri membubarkan diri usai menyampaikan lima tuntutan di kasus penganiayaan siswa SMP berinisial AT oleh anggota Brimob Polda Maluku Bripda Mesias Siahaya hingga tewas.
Pantauan di lokasi, aliansi mahasiswa dari Universitas Indonesia, UPN Veteran Jakarta dan Politeknik Negeri Jakarta mulai membubarkan diri sekira pukul 18.35 WIB.
"Di bulan suci Ramadan, kita bertempat di tempat yang sayangnya tidak suci, kita melaksanakan aksi dengan tagar aparat keparat," ujar Ketua BEM UI, Yatalathof Mashum saat membacakan pernyataan sikap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yatalathof mengatakan aliansi mahasiswa mendesak agar diberikan hukuman pidana yang seberat-beratnya kepada polisi pembunuh AT dan segenap aparat pelaku represifitas.
Kedua, aliansi mahasiswa juga mendesak agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto untuk dicopot dari jabatannya.
Selain itu, mereka juga menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi dan penegakan batasan kewenangan dan penarikan Polri dari jabatan sipil.
Kecewa tak ditemui Kapolri
Terakhir, mereka meminta agar ada hasil konkret reformasi Polri secara struktural, kultural dan instrumental dari komisi percepatan reformasi Polri.
"Pada hari ini, kami massa aksi tidak dapat menemui Kapolri. Bahkan sedikitpun, kami dikecewakan sekali lagi. Aspirasi-aspirasi yang kami suarakan tidak lagi didengar oleh mereka," ucapnya.
Ancam aksi lebih besar
Untuk itu, massa aksi mengancam akan kembali melakukan aksi demo di lain waktu dengan kekuatan yang lebih besar lagi.
"Kami akan kembali pada esok hari dalam kekuatan-kekuatan yang lebih besar, dalam aksi-aksi yang lebih besar dan lebih masif. Kami akan bertransformasi menjadi kekuatan yang lebih kuat," pungkasnya.
(tfq/dal)


















































