OJK Buka Suara soal MSCI Pertahankan Status Emerging Market RI

13 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertahankan status Indonesia sebagai negara berkembang atau emerging market. Meskipun begitu, lembaga asal Amerika Serikat (AS) tersebut menurunkan kriteria arus informasi Indonesia menjadi negatif.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan OJK mencermati hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 yang menunjukkan bahwa secara umum mayoritas aspek aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga.

Menurutnya, laporan MSCI kali ini tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menyadari adanya catatan dari lembaga tersebut untuk arah perbaikan pasar modal Indonesia ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasan menyebutkan pada kriteria Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level, MSCI memberikan penilaian "-" atau negatif, ini  yang menunjukkan adanya perhatian untuk melakukan perbaikan.

"Terkait aspek Information Flow di atas, Kami memandang masukan tersebut sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang saat ini sedang dijalankan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, KSEI, KPEI, serta seluruh pelaku industri," ujar Hasan dalam keterangan resmi tertulis, Jumat (19/6).

Pada saat yang sama, OJK juga mencatat adanya pengakuan MSCI atas sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia, termasuk berkurangnya beberapa catatan mengenai Foreign Exchange Market Liberalization Level. Namun hasil asesmennya masih sama dengan output tahun lalu, yaitu butuh peningkatan (improvement).

[Gambas:Youtube]

"Sebagai langkah tindak lanjut, kami terus melakukan koordinasi intensif di Internal OJK dan dengan otoritas terkait seperti Bank Indonesia guna memastikan ke depan akan lebih baik dengan tetap memperhatikan mitigasi risiko yang govern dan sejalan dengan kebijakan makroprudensial nasional untuk mencegah volatilitas pasar," terangnya.

Meski begitu, ia menegaskan lima segmen Market Accessibility yang terdiri dari 18 kriteria, hasil asesmen penilaiannya masih sama. Sebanyak 10 dari 18 kriteria mendapat penilaian "++" atau double plus yang merupakan kriteria tertinggi. Hal tersebut menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada issue.

Sementara itu, enam kriteria masih dinilai "+" atau single plus yang diharapkan terus ada peningkatan ke depannya.

MSCI mengumumkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia turun menjadi negatif dalam laporan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis Kamis (18/6).

Keputusan ini diambil setelah MSCI kembali menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham tanah air.

MSCI menjelaskan bahwa penurunan kriteria arus informasi ini mencerminkan adanya ketidakjelasan atau opacity pada data kepemilikan dan aktivitas pasar. Hal tersebut dinilai merusak pembentukan harga yang wajar, serta membatasi kemampuan investor global untuk menilai jumlah saham beredar di publik (true free float) dari perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.

Selain masalah transparansi saham, MSCI juga menyoroti keterbatasan di pasar valuta asing (valas) sebagai hambatan besar bagi investor asing, sebagaimana dilansir dari Reuters, Jumat (19/6).

"Tidak ada pasar mata uang luar negeri (offshore) yang efisien, dan terdapat pembatasan pada pasar mata uang dalam negeri (onshore) di Indonesia," tulis MSCI dalam laporannya, sekaligus menambahkan bahwa tingkat liberalisasi valas di Indonesia masih sangat terbatas.

Langkah MSCI turut menjadi pukulan telak lanjutan bagi pasar keuangan domestik. Sejak MSCI pertama kali melayangkan peringatan pada Januari lalu mengenai isu transparansi-termasuk ancaman penurunan status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perintis (frontier market)-pasar modal Indonesia terus merosot.

Jika penurunan status tersebut benar-benar terjadi, aliran dana asing Indonesia berpotensi keluar (outflows) hingga US$13 miliar atau setara Rp231,7 triliun (kurs Rp17.826).

Dampak dari sentimen negatif ini sudah terlihat jelas pada performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang 2026 berjalan, indeks anjlok lebih dari 27 persen.

Sementara itu, investor asing tercatat telah melakukan aksi jual bersih (net sell) sebanyak US$3,76 miliar atau sekitar Rp67 triliun (kurs Rp17.826) di pasar saham Indonesia.

(fln/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |