Thailand Gelar Pemilu: Pilot, Insinyur, sampai Taipan IT Mau Jadi PM

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Jutaan rakyat Thailand menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Minggu (8/2), yang ketiga dalam dua tahun terakhir imbas politik Thailand terus porak-poranda.

Pemilu ini digelar menyusul pembubaran parlemen oleh Perdana Menteri Anutin Charnvirakul pada Desember 2025. Hal ini sekaligus menjadi titik balik bagi perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara setelah gejolak politik dan dinamika pemerintahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemilihan umum kali ini menjadi ajang pertarungan sengit antara kubu reformis yang haus akan perubahan melawan aliansi konservatif yang kini  masih memegang kendali pemerintahan.

"Kami butuh pemimpin kuat yang bisa melindungi kedaulatan kami," ujar Yuernyong Loonboot, 64 tahun, pemilih pertama di tempat pemungutan suara Buriram, kampung halaman Anutin, dikutip dari AFP.

"Tinggal di sini, konflik perbatasan membuat saya cemas. Perang bukanlah hal yang biasa kami pikirkan," imbuhnya.

Pemilu kali ini menjadi ajang kompetisi bagi tiga tokoh yang membidik kursi perdana menteri. Ketiga calon PM ini yakni Ketua Partai Rakyat (People's Party) yang progresif, Natthaphong Ruengpanyawut.

Pengusaha 38 tahun dan mantan eksekutif perusahaan penyedia layanan komputasi awan ini menulis di LinkedIn bahwa salah satu mimpinya antara lain "menciptakan inovasi demi kemanusiaan yang lebih baik".

Natthaphong juga bermimpi membangun perusahaan teknologi yang suatu hari bisa menjadi "Google-nya Thailand".

Berdasarkan jajak pendapat, Partai Rakyat menjadi kandidat terdepan dalam pemilu kali ini.

Namun, kalangan reformis kerap dipandang sebagai ancaman oleh kekuatan konservatif di Thailand yang masih mendominasi. Partai ini sendiri telah dua kali dibubarkan.

Selain Natthaphong, ada PM petahana Anutin Charnvirakul. Ia merupakan seorang pilot sekaligus pewaris kerajaan bisnis konstruksi.

Anutin bisa menjadi PM lantaran dua pendahulunya dilengserkan pengadilan.

Partai Bhumjaithai yang dipimpinnya juga hanya meraih posisi ketiga pada pemilu sebelumnya.

Meski begitu, Anutin secara luas diperkirakan akan terus mempertahankan jabatannya apa pun hasil pemilu ini.

Terakhir ada Yodchanan Wongsawat, profesor teknik biomedis di salah satu universitas terkemuka Thailand.

Wongsawat menjadi penerus terbaru dari dinasti politik populis yang dirintis pamannya, mantan perdana menteri sekaligus miliarder telekomunikasi Thaksin Shinawatra.

Akademisi berusia 46 tahun itu belum pernah memegang jabatan politik, meski sempat mencalonkan diri sebagai anggota parlemen lebih dari satu dekade lalu dalam pemilu yang kemudian dibatalkan pengadilan.

Tidak ada partai yang diprediksi akan memenangkan suara mayoritas secara mutlak. Negosiasi koalisi diperkirakan akan terjadi setelah hasil yang diharapkan keluar pada Minggu malam.

Partai Rakyat memimpin telak dalam jajak pendapat menjelang pemungutan suara. Namun, meskipun pendahulunya, Move Forward memenangkan kursi terbanyak pada pemilu terakhir, kandidatnya dihalangi untuk menjadi perdana menteri dan partai itu dibubarkan.

(tfq/rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |