Jakarta, CNN Indonesia --
VinFast Indonesia menggelar VIN TALKS di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 dengan tema 'Navigating Uncertainty: The Future of Indonesia's Automotive Industry Amid Policy Shifts and Electrification'. Forum ini menghadirkan ekonom nasional, Josua Pardede, dan CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, untuk membahas tantangan industri otomotif yang semakin kompleks.
Saat ini, industri otomotif Indonesia menghadapi tekanan dari beberapa sisi sekaligus, mulai dari perlambatan permintaan, ketidakpastian kebijakan fiskal, dan percepatan transisi ke kendaraan listrik. Evaluasi insentif di tengah pengetatan anggaran memunculkan kekhawatiran akan potensi fiscal cliff pada periode 2025-2026 yang bisa mengganggu kesinambungan pertumbuhan sektor ini.
Memasuki 2026, ketidakjelasan soal kelanjutan insentif kendaraan listrik mendorong sikap wait-and-see di kalangan produsen EV. Kondisi ini berpotensi menghambat ekspansi portofolio produk sekaligus menekan optimisme terhadap target emisi nol bersih pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Josua Pardede menilai transisi dari kendaraan berbahan bakar ke kendaraan listrik membutuhkan investasi besar, penyesuaian rantai pasok, dan kesiapan infrastruktur yang merata. Kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan daya beli konsumen.
"Tahun ini akan menjadi fase yang menantang bagi industri otomotif, terutama jika kepastian insentif dan kebijakan fiskal belum sepenuhnya jelas. Namun secara struktural, Indonesia tetap memiliki fondasi yang kuat, ditopang oleh pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta roadmap elektrifikasi nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan bahwa dukungan pemerintah menjadi faktor kunci dalam transisi ini. Kesinambungan kebijakan, terutama mengenai insentif, menjadi faktor kunci agar pelaku industri serta konsumen tetap memiliki kepercayaan diri untuk melakukan investasi dan beralih ke kendaraan listrik.
Di sisi industri, VinFast menegaskan komitmen jangka panjangnya di Indonesia melalui pendekatan berbasis ekosistem yang mencakup infrastruktur pengisian daya, jaringan ritel, dan layanan purna jual. Pendekatan ini ditujukan untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik secara menyeluruh.
"Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai hub EV regional sekaligus memastikan konsumen memiliki akses dan kepercayaan penuh terhadap kendaraan listrik. Ini bagian dari strategi jangka panjang kami di tengah transisi industri otomotif," tutur Kariyanto Hardjosoemarto.
Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, VinFast membuka 2026 dengan meluncurkan Limo Green, MPV listrik tujuh penumpang yang dirancang untuk segmen keluarga maupun kebutuhan komersial seperti armada taksi dan ride-hailing. Peluncuran ini menjadi sinyal bahwa VinFast tetap aktif berinvestasi meski kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif.
"Langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk terus berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan, selaras dengan agenda industrialisasi dan transisi energi nasional," pungkas dia.
(rir)


















































