Walkot Luncurkan Pete-pete Laut, Kapal Penghubung Pulau-pulau Makassar

4 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meresmikan pengoperasian layanan transportasi KM Banawa Nusantara 27 yang disebut Pete-pete Laut di Dermaga Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang pada Jumat (12/6).

Munafri Arifuddin mengatakan, peluncuran Pete-pete Laut menjadi solusi atas keterbatasan akses transportasi yang selama ini dihadapi masyarakat Kepulauan Sangkarrang.

Layanan ini beroperasi secara rutin satu kali setiap pekan, yakni setiap hari Senin, dan diprioritaskan bagi tenaga pendidik, tenaga kesehatan, pelajar, serta masyarakat umum yang tinggal di wilayah Kepulauan Sangkarrang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini kita melakukan peluncuran awal sebuah program yang menjadi solusi bagi kondisi masyarakat Kepulauan Sangkarrang," ujar Munafri.

Kapal akan memulai perjalanan dari Pulau Barrang Lompo pada pukul 07.00 Wita, melayani rute menuju Pulau Bone Tambu, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, dan melanjutkan perjalanan ke pulau terluar sebelum kembali ke Barrang Lompo.

Munafri menambahkan, layanan Pete-pete Laut diberikan secara gratis. Ia menegaskan bahwa transportasi ini bukan milik pemerintah, melainkan fasilitas publik yang harus dijaga dan dimanfaatkan bersama oleh seluruh warga kepulauan.

"Ini bukan milik pemerintah, tetapi milik masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah. Karena itu setiap perjalanan kapal ini tidak dipungut biaya. Tidak ada tarif yang ditentukan. Semuanya gratis untuk masyarakat yang ada di pulau-pulau," ujarnya

Kehadiran moda transportasi ini pun menjadi tonggak penting dalam upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memperkuat konektivitas wilayah kepulauan dengan daratan. Program ini juga diyakini sebagai solusi yang mendukung akses pendidikan, kesehatan, serta berbagai layanan publik lainnya yang selama ini terkendala faktor transportasi.

Selama ini, akses transportasi menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi masyarakat pulau, mulai dari pelajar yang harus menempuh perjalanan ke sekolah, guru yang bertugas di wilayah kepulauan, hingga tenaga kesehatan.

Kini, melalui layanan transportasi laut yang beroperasi secara terjadwal dan tanpa biaya, mobilitas masyarakat di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang diharapkan menjadi lebih mudah, cepat, dan terjangkau.

"Selama ini alur transportasi menjadi faktor yang membatasi gerak pembangunan, baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusia di wilayah kepulauan," tutur Munafri.

Pengoperasian Pete-pete Laut dinilai sebagai simbol pemerataan pembangunan yang menyentuh seluruh wilayah Kota Makassar, termasuk gugusan kepulauan.

Program ini juga merupakan bagian dari realisasi janji politik Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham pada Pilkada 2024, yang menempatkan masyarakat kepulauan sebagai bagian penting dari pembangunan kota yang inklusif dan berkeadilan.

Warga Kepulauan kini dapat merasakan langsung layanan publik yang dirancang untuk mendekatkan akses, mempercepat pelayanan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di pulau-pulau terluar Kota Makassar.

"Saya ingin memastikan dengan hadirnya Pete-pete Laut, akses masyarakat menjadi lebih mudah. Di sisi lain, pemerintah juga bisa lebih dekat melihat dan menjangkau pulau-pulau yang kita miliki," kata Munafri.

"Pulau-pulau di sini, merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah Kota Makassar dan harus kita jaga bersama-sama," lanjutnya.

Saat ini, satu armada saja disebut belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan transportasi masyarakat kepulauan. Untuk itu, pemerintah akan menghitung kebutuhan operasional dan skema pengembangan layanan agar program ini dapat terus berlanjut dengan menghadirkan sekitar dua sampai tiga kapal nantinya.

Pada kesempatan yang sama, Munafri mengingatkan tentang aspek keselamatan pelayaran, terlebih Pete-pete Laut dapat mengangkut penumpang hingga 30 orang. Ia meminta Dinas Perhubungan memastikan seluruh standar keamanan dan pelayanan dipenuhi secara maksimal.

Salah satunya, dengan memberikan satu jaket pelampung untuk setiap penumpang, serta memastikan perangkat komunikasi kapal berfungsi dengan baik selama perjalanan.

"Saya minta agar memperhatikan seluruh aspek pelayanan transportasi. Yang paling penting adalah aspek keamanannya. Kapal ini harus dilengkapi sarana keselamatan yang lengkap dan memadai, serta tidak boleh overload," imbuh Munafri.

Munafri menekankan bahwa operasional Pete-pete Laut harus memenuhi prinsip keamanan, keselamatan, kenyamanan, kesetaraan, dan kemudahan sebagai bagian dari standar pelayanan minimal transportasi publik.

Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh masyarakat Kepulauan Sangkarrang untuk menjaga dan merawat fasilitas yang telah dihadirkan pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

"Saya berharap masyarakat bersama-sama menjaga Pete-pete Laut ini. Ini adalah milik kita semua, milik warga pulau yang difasilitasi pemerintah untuk menjadi sarana transportasi antar pulau," kata Munafri.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Rheza, memaparkan bahwa kesiapan armada, sumber daya manusia, hingga skema operasional kapal telah disiapkan gyna melayani masyarakat kepulauan. Kapal yang digunakanmerupakan kapal Banawa Nusantara yang selama ini telah dimiliki dan dioperasikan oleh Dishub Makassar.

Dari sisi keselamatan pelayaran, seluruh awak kapal telah memenuhi standar kompetensi dan sertifikasi sesuai standar keselamatan maritim internasional, termasuk sertifikat Basic Safety Training (BST), Advanced Fire Fighting (AFF), dan Security Awareness Training yang merupakan persyaratan wajib bagi pelaut. Para awak kapal pun terikat melalui perjanjian kerja dengan Dishub Kota Makassar.

"Awak kapal kami terdiri dari lima orang, yaitu kapten, juru mudi, dan tiga anak buah kapal," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rheza juga mengungkapkan bahwa operasional Pete-pete Laut dijalankan dengan memanfaatkan anggaran operasional kapal yang selama ini telah tersedia.

"Program ini lahir dari niat baik dan kepedulian Bapak Wali Kota untuk menjawab kebutuhan masyarakat kepulauan. Alhamdulillah, dengan memanfaatkan anggaran operasional yang sudah ada, program ini bisa diwujudkan," kata Rheza.

Untuk mendukung operasional kapal selama satu tahun, Dishub telah mengalokasikan anggaran bahan bakar. Sementara untuk pemeliharaan kapal, termasuk perbaikan mesin dan fisik kapal, dialokasikan anggaran pada tahun 2026.

Selain itu, Dishub juga menganggarkan belanja jasa operator kapal atau gaji awak kapal sebesar Rp246 juta per tahun.

Rheza mengakui, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi pulau tujuan selama kapal kayu tersebut menuju pulau dengan membawa penumpang. Dari empat pulau yang akan dilayani, sebagian masih memiliki keterbatasan dermaga dan kedalaman perairan, sehingga kapal berukuran besar belum dapat bersandar secara langsung.

Ia mencontohkan kondisi di Pulau Bone Tambu yang memiliki kedalaman perairan sekitar satu meter di area dermaga, membuat kapal harus menggunakan perahu penghubung atau tender boat untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

"Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Karena itu kami berharap ke depan dapat dibangun dermaga yang lebih representatif di pulau-pulau tujuan agar kapal-kapal yang lebih besar dapat bersandar dengan aman dan nyaman," ujarnya.

Melalui kehadiran Pete-pete Laut, Rheza berharap konektivitas antar pulau di wilayah Kepulauan Sangkarrang semakin baik, serta dapat membuka akses yang lebih mudah bagi layanan pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat pulau.

"Karena program ini menjadi langkah awal Pemkot Makassar dalam menghadirkan layanan transportasi publik laut yang terintegrasi, aman, terjangkau, bagi warga di pulau-pulau terluar Kota Makassar," pungkas Rheza.

(rea/rir)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |