CNN Indonesia
Kamis, 26 Mar 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Satu kali berbohong, bisa membuat orang lain tidak percaya pada kita. (Pixabay/Foundry)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rasa tidak percaya terhadap seseorang sering kali tidak muncul dari kebohongan besar, melainkan dari cara ia berbicara dalam keseharian.
Baik di lingkungan kerja, pertemanan, maupun keluarga, keraguan kerap tumbuh dari kalimat-kalimat kecil yang terus diulang. Pola bahasa inilah yang sering menjadi petunjuk awal bahwa ucapan dan kenyataan tidak selalu berjalan seiring.
Orang yang omongannya sulit dipercaya jarang terang-terangan mengaku berbohong. Sebaliknya, mereka kerap menyamarkan ketidakterbukaan lewat kalimat yang terdengar biasa saja, defensif, atau bahkan terkesan santai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dicermati, pola kalimat semacam ini sering muncul dalam situasi yang serupa, terutama saat mereka dikritik, diminta bertanggung jawab, atau dihadapkan pada konsekuensi dari ucapannya sendiri.
Melansir Your Tango, berikut sejumlah ciri orang yang omongannya kerap sulit dipercaya:
1. Sering meremehkan atau menyangkal pemahaman orang lain
Kalimat seperti 'kamu nggak ngerti', 'kamu lebay', atau 'kamu kebanyakan mikir' kerap digunakan untuk mematahkan pendapat lawan bicara. Alih-alih berdiskusi atau memberi penjelasan, mereka justru merendahkan sudut pandang orang lain.
Tujuan utamanya bukan mencari kebenaran, melainkan menguasai situasi. Dengan membuat orang lain meragukan penilaiannya sendiri, mereka berada di posisi aman tanpa perlu mengubah perilaku atau mengakui kesalahan.
2. Mudah mengingkari ucapan atau janji sendiri
Orang yang sulit dipercaya kerap mengubah atau menyangkal pernyataan sebelumnya, terutama ketika ucapannya mulai menimbulkan masalah. Kalimat seperti 'saya nggak pernah bilang begitu' menjadi tanda yang cukup jelas.
Pola ini menunjukkan upaya mengendalikan narasi demi melindungi citra diri. Dalam jangka panjang, sikap semacam ini membuat komunikasi terasa rapuh dan kepercayaan sulit terbangun.
3. Membenarkan kesalahan
Ungkapan 'semua orang juga melakukan hal yang sama' sering digunakan untuk menormalisasi tindakan yang sebenarnya keliru. Dengan cara ini, kesalahan pribadi seolah berubah menjadi sesuatu yang wajar.
Dalih semacam ini kerap membuat orang di sekitarnya merasa perasaannya diabaikan, karena masalah personal justru ditarik menjadi alasan kolektif.
4. Menghindari pembahasan dengan alasan ingin 'move on'
Orang dengan pola ini cenderung ingin cepat menutup konflik tanpa klarifikasi atau permintaan maaf yang jelas. Kalimat 'sudahlah, nggak usah dibahas lagi' sering muncul sebelum masalah benar-benar selesai.
Keinginan cepat 'move on' sering kali bukan demi ketenangan bersama, melainkan untuk menghindari rasa tidak nyaman akibat kesalahan yang belum dibereskan.
5. Melepas tanggung jawab begitu saja
Saat masalah mulai membesar, orang dengan pola ini cenderung menarik diri, meski sebelumnya terlibat langsung dalam situasi tersebut.
Mereka memilih menjaga kenyamanan pribadi dibanding menyelesaikan persoalan. Akibatnya, janji atau komitmen yang pernah diucapkan terasa kosong karena tidak diikuti tindakan nyata.
6. Selalu menyalahkan keadaan atau orang lain
Orang dengan pola ini jarang melakukan refleksi diri dan lebih sering menunjuk faktor eksternal sebagai penyebab masalah. Ungkapan "ini bukan salah saya" hampir selalu muncul dalam berbagai situasi.
Kebiasaan menyalahkan ini membuat orang lain ragu mempercayakan tanggung jawab, karena tidak ada jaminan mereka akan mengakui perannya saat terjadi kesalahan.
7. Meminta maaf tanpa benar-benar mengakui kesalahan
Permintaan maaf memang diucapkan, tetapi terdengar seperti formalitas. Kesalahan tidak dijelaskan, apalagi diakui secara jelas.
Permintaan maaf semacam ini sering meninggalkan rasa tidak tuntas, karena tidak disertai niat memperbaiki keadaan atau mencegah hal serupa terulang.
Perlu dipahami, ungkapan seseorang tidak selalu menjadi bukti bahwa ia tidak jujur. Namun, ketika pola-pola di atas muncul berulang dan konsisten, terutama dalam situasi penting, hal itu bisa menjadi tanda bahwa kata-kata dan tindakan tidak berjalan seiring.
Mengenali ciri-ciri ini bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai bentuk kewaspadaan. Sebab, kepercayaan sering kali runtuh bukan karena satu kebohongan besar, melainkan karena terlalu sering mengabaikan tanda-tanda kecil yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal.
(nga/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































