Yogyakarta, CNN Indonesia --
Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya mempolisikan Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla alias JK imbas ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 lalu.
JK dipolisikan karena dianggap telah menistakan ajaran Agama Kristen lewat ceramahnya yang bertajuk 'Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar'.
JK hadir sebagai salah satu pembicara 'Ramadan Public Lecture'. Momen ceramah JK selama kurang lebih 43 menit ini turut disiarkan melalui kanal YouTube resmi Masjid Kampus UGM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
GAMKI bersama Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Perjuangan Masyrakat Pluralisme, DPP Si Pitung, hingga DPP Horas Bangso Batak melaporkan JK ke pihak kepolisian karena mempersoalkan pernyataan yang bersangkutan mengenai konflik Poso dan Ambon.
Dalam keterangannya, DPP GAMKI mengutip pernyataan JK yang dinilai kontroversial itu. Pernyataan itu menyinggung konflik di Poso dan Ambon pada awal 2000-an. Mereka mempermasalahkan soal frasa 'syahid' yang diungkap JK terkait konflik yang menyinggung agama, termasuk di Poso dan Ambon.
Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Sinurat menyatakan mereka juga mengecam keras pernyataan JK yang dinilai menyakiti hati umat Kristen dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
Sahat menyatakan agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang berbeda keyakinan maka akan masuk surga. Justru, sambungnya, agama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun.
Isi ceramah JK
Pernyataan ini kemungkinan mengacu pada bagian awal ceramah JK. Pada sepuluh menit pertama, JK memang mengungkit 15 konflik besar di Indonesia imbas ketidakadilan. Dua di antaranya adalah tragedi Poso dan Ambon yang berujung menjadi konflik agama.
"Ada juga (konflik) karena agama, walaupun didahului dengan ketidakadilan. Kemudian akibatnya ke agama, kaya Poso, Ambon, DI/TII. Kenapa agama gampang menjadi jadikan alasan konflik, kaya di Poso, Ambon. Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan, itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu, kalau saya bunuh orang Islam saya syahid, kalau saya mati pun, saya syahid. Akhirnya susah berhenti kalau konfliknya orang membawanya ke agama," kata JK.
Pada pertengahan ceramahnya, JK menyampaikan bahwa ia ikut mendamaikan tiga dari 15 konflik besar di dalam negeri itu. Dengan ilmu logika dan keberanian, tanpa melibatkan operasi militer.
Pada momen inilah JK menekankan bahwa tak ada ajaran agama Islam maupun Kristen yang menggaransi seorang pembunuh masuk surga.
"Waktu di Ambon terbagi kota itu, ini Kristen, ini Islam. Kalau masuk (wilayah) Kristen, dipenggal orang. Kalau masuk daerah Islam, orang Kristen dipenggal. Ribuan hampir lima ribu orang meninggal hanya karena yang membunuh merasa syahid, hebat. Dibunuh pun orang tuanya tidak menyesal, tidak ada tangis yang menyesal di Ambon itu kalau anaknya mati, dia bilang anak saya sudah masuk surga," papar JK.
JK memberanikan diri terjun ke daerah konflik, meski banyak orang mengingatkan risiko keamanannya, tapi tekadnya sudah bulat.
"Bicara dengan mereka. Tentu saya (juga) masuk daerah Islam, tapi satu saya berpidato di seluruh ribuan orang. Dengan hanya satu kata, bahwa sekalian anda merasa masuk surga, tidak benar itu! Anda semua di sini yang membunuh orang, masuk neraka! Terkejut dia. Tunjukkan sama saya, agama Islam dan Kristen, yang mengatakan, membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Tunjukkan, mana! Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada, jadi anda semua masuk neraka. Semua berhenti. Semua diam," kisahnya.
"Besoknya saya panggil semua, saya marah, bahwa kalian ini yang pertama masuk neraka. Akhirnya saya bilang, apa pak, bicara dengan saya, mari kita duduk, dan ujungnya damai, di Malino," sambung JK.
Pandangan serupa JK serukan kala mendamaikan konflik di Poso. Dia memanggil para pemuka masing-masing agama dan menekankan neraka sebagai pelabuhan terakhir bagi pembunuh.
Add
as a preferred source on Google


















































