Hari Mata Juling Sedunia, Kenali Tanda dan Jenis Strabismus

4 hours ago 1

CNN Indonesia

Senin, 10 Agu 2026 14:00 WIB

Photo portrait of Squint woman wearing striped t-shirt on yellow background Ilustrasi. Mata juling harus ditangani, karena bisa ganggu penglihatan. (iStockphoto/CagdasAygun)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Mata juling atau strabismus sering kali dianggap hanya sebagai persoalan penampilan. Padahal, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi penglihatan, termasuk kemampuan kedua mata bekerja sama dan memperkirakan kedalaman.

Strabismus merupakan kondisi ketika kedua mata tidak sejajar saat melihat suatu objek. Salah satu mata dapat menyimpang ke arah dalam, luar, atas, atau bawah.

Kondisi ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa. Pada anak, strabismus yang tidak ditangani dapat mengganggu perkembangan fungsi penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bertepatan dengan World Strabismus Day atau Hari Mata Juling Sedunia yang diperingati setiap 10 Agustus, penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda mata juling dan tidak menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang akan selalu membaik dengan sendirinya.

Mengenal jenis-jenis mata juling

Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata. Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung. Sementara itu, exotropia merupakan kondisi ketika mata bergeser ke arah luar.

Ada pula hypertropia, yaitu ketika mata bergeser ke arah atas, dan hypotropia, ketika mata bergeser ke arah bawah. Pada sebagian pasien, arah deviasi mata dapat lebih kompleks atau merupakan kombinasi dari beberapa pola.

Selain berdasarkan arah pergeseran, strabismus juga dapat dibedakan berdasarkan pola kemunculannya.

1. Strabismus manifest

Kondisi ini berupa ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan dapat muncul secara terus-menerus.

2. Strabismus latent

Pada kondisi ini, kecenderungan mata untuk bergeser biasanya tidak terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Deviasi baru dapat diketahui melalui pemeriksaan tertentu.

3. Strabismus intermittent

Mata juling muncul dan menghilang pada waktu tertentu. Kondisi ini dapat terlihat ketika anak sedang lelah, mengantuk, sakit, melamun, atau kehilangan fokus.

4. Strabismus alternating

Ketidaksejajaran mata dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.

Bukan cuma masalah penampilan

Masih ada sejumlah mitos mengenai mata juling di masyarakat. Misalnya, anggapan bahwa mata juling membawa keberuntungan, disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tidak dapat ditangani, atau akan sembuh sendiri seiring bertambahnya usia.

Padahal, strabismus merupakan kondisi medis yang perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab, dampaknya terhadap fungsi penglihatan, serta penanganan yang sesuai. Pada anak, perhatian terhadap kondisi ini menjadi penting karena sistem penglihatan masih berkembang. Ketidaksejajaran mata yang menetap dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia.

Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society) sekaligus Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Lely Retno Wulandari mengatakan mata anak yang berusia sekitar tiga hingga empat bulan terkadang belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatannya masih berkembang.

Namun, apabila ketidaksejajaran mata menetap setelah usia empat bulan, orang tua sebaiknya tidak menunggu hingga anak lebih besar untuk memeriksakannya.

"Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan," kata Lely dalam keterangannya, Senin (10/8).

ilustrasi mata juling pada anakIlustrasi. Mata juling pada anak. (Foto: iStockphoto/IvanJekic)

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.

Sementara itu, mata juling yang muncul secara mendadak perlu mendapat perhatian lebih, terutama jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya.

Apa penyebab mata juling?

Strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, serta perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata.

Gangguan pada otot atau saraf penggerak mata juga dapat menjadi faktor penyebab. Pada orang dewasa, strabismus yang muncul kemudian dapat berkaitan dengan kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, atau penyakit sistemik tertentu.

Karena penyebabnya beragam, penanganan mata juling tidak bisa disamaratakan untuk setiap pasien. Pemeriksaan biasanya mempertimbangkan usia, penyebab, arah dan besar deviasi, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, kondisi ambliopia, fungsi penglihatan binokular, hingga kondisi kesehatan lain yang menyertai.

Bagaimana mata juling ditangani?

Penanganan strabismus dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kondisi masing-masing pasien. Pilihannya antara lain penggunaan kacamata, terapi ambliopia, latihan penglihatan, hingga operasi otot mata.

Pemeriksaan dapat meliputi ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, posisi dan pergerakan bola mata, serta fungsi penglihatan binokular. Pemeriksaan stereopsis dan koordinasi kedua mata juga dapat dilakukan menggunakan alat tertentu sesuai kebutuhan klinis.

Pada pasien tertentu, dokter dapat memberikan kacamata dengan lensa khusus atau prisma untuk membantu fokus, mengurangi deviasi, atau mengatasi penglihatan ganda.

Jika terdapat ambliopia atau mata malas, terapi dapat dilakukan dengan patching, yakni menutup mata yang lebih kuat dalam durasi tertentu sehingga mata yang lebih lemah mendapatkan stimulasi. Latihan penglihatan juga dapat diberikan sesuai indikasi medis untuk membantu koordinasi kedua mata.

Sementara itu, operasi otot mata dapat dipertimbangkan apabila terapi nonbedah belum memberikan hasil yang memadai atau operasi menjadi pilihan yang paling sesuai berdasarkan diagnosis pasien.

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus Gusti G. Suardana mengatakan operasi tidak semata-mata dilakukan untuk memperbaiki penampilan mata.

"Keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh," ujarnya.

Karena itu, dokter perlu menilai pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, serta kondisi kesehatan pasien sebelum menentukan tindakan.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |