Liverpool Kian Merana, Bangkit atau Bye-bye Panggung Eropa

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Liverpool semakin terseok-seok di Premier League usai kena comeback Manchester City 1-2 di Anfield, Senin (9/2) dini hari WIB. Kekalahan itu membuat The Reds terpental sementara dari persaingan panggung Eropa.

Kini tim asuhan Arne Slot bertengger di peringkat keenam dengan 39 angka dengan 11 kemenangan, enam imbang, dan delapan kali kalah. Tak ada tambahan poin di akhir pekan membuat Hugo Ekitike dan kawan-kawan menjauh dari garis terakhir zona kompetisi regional.

Liga Inggris mendapat jatah tujuh tiket untuk melaju ke tiga kasta kompetisi Eropa seperti Champions League, Europa League, dan Conference League. Empat tim teratas klasemen Premier League berhak ke Liga Champions.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu tim peringkat kelima dan pemenang FA Cup mendapat jatah tempat di Europa League. Sedangkan tiket playoff Conference League jadi milik pemenang EFL Cup 2025/2026 antara Arsenal atau Man City.

Namun dengan situasi Arsenal dan Man City yang punya peluang besar lolos ke Liga Champions musim depan, bisa saja jatah tiket playoff Conference League jadi milik tim lain. Ini terjadi di musim Conference League 2025/2026 saat hak tiket diberi untuk Nottingham Forest yang finis di peringkat ketujuh musim lalu.

Tapi dengan status tim paling banyak gelar di Inggris, mau dibawa ke mana wajah mereka jika tak mejeng di kasta tertinggi Eropa? Atau bahkan, apabila sama sekali tidak berlaga di level benua?

Terakhir kali The Reds absen di pentas Eropa adalah 10 musim lalu. Saat itu Jurgen Klopp memimpin Liverpool pada musim perdana. Finis di peringkat kedelapan Premier League dan gagal juara meski tembus final Liga Europa 2015/2016 jadi penyebabnya.

Alhasil di musim 2016/2017 Liverpool hanya fokus berlaga di panggung domestik. Meski pada akhirnya, momen ini jadi titik balik karena The Reds kembali berlaga di Liga Champions 2017/2018 bahkan finis sebagai runner-up dan puncaknya jadi juara di Liga Champions 2018/2019.

Selama absen di pentas Eropa di musim 2016/2017, Klopp berupaya menyusun ulang komposisi tim limpahan Brendan Rodgers. Kedatangan Joel Matip, Loris Karius, Georginio Wijnaldum, dan Sadio Mane sekaligus melengkapi kepingan yang hilang.

Loris Karius memegang peran penting, terlepas dari blunder fatal di final Liga Champions 2017/2018. Lalu Sadio Mane adalah striker paling vital yang dimiliki The Reds pada masanya.

Kembali ke musim ini, menyusun ulang kekuatan yang kian hilang bisa dilakukan Arne Slot sebelum terlambat. Dengan musim kompetisi yang masih menyisakan 13 pekan, ruang untuk berubah masih bisa dilakukan.

Bersambung ke halaman berikutnya...


Read Entire Article
| | | |