Pengayaan Uranium Iran yang Ditakuti Israel-AS Sudah Berapa Persen?

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran kini memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Angka itu mendekati ambang senjata nuklir 90 persen dan menjadi kekhawatiran Israel serta Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga 60 persen.

Melansir situs Euro News, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Mei 2025, melaporkan, jumlah uranium itu cukup untuk membuat sembilan senjata nuklir jika pengayaannya ditingkatkan hingga mencapai 90 persen.

Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan Teheran bersedia menurunkan kadar uranium yang sangat diperkaya jika AS mencabut sanksi.

"Kemungkinan untuk mengurangi pengayaan uranium bergantung pada apakah semua sanksi dicabut sebagai imbalannya," kata Eslami pada Senin (9/2), seperti dikutip Al Jazeera.

Presiden AS Donald Trump beberapa kali menuntut agar Iran sepenuhnya dilarang melakukan pengayaan uranium.

Syarat ini ditolak keras oleh Teheran dan dianggap jauh lebih merugikan dibanding perjanjian nuklir 2015 dengan kekuatan dunia yang kini sudah tidak berlaku.

Iran menegaskan mereka memiliki hak untuk menjalankan program nuklir sipil sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, yang ditandatangani oleh Iran bersama 190 negara lainnya.

Sejarah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran juga turut memengaruhi situasi saat ini. Program nuklir Iran mengalami kerusakan akibat serangan pada bulan Juni tahun lalu.

Sebelum serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklirnya, Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen, jauh melampaui batas 3,67 persen yang diatur dalam perjanjian nuklir 2015 dengan kekuatan dunia.

Pada 13 Juni 2025, Israel menyerang puluhan fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan infrastruktur penting Iran.

Tak lama kemudian, pada 22 Juni, AS menargetkan fasilitas nuklir Fordo, Natanz, dan Isfahan menggunakan bom penghancur bunker.

Serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan pada kemampuan pengayaan uranium Iran.

Namun, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan Teheran masih dapat melanjutkan pengayaan dalam beberapa bulan ke depan, dikutip dari Euro News.

(rnp/bac)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |