Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong (STY), diminta pendapatnya soal banyaknya pemain naturalisasi main di Super League.
"Ya, tidak masalah. Yang penting masing-masing pemain berusaha keras di tim masing-masing," ucap STY dalam sebuah kegiatan sepak bola di Jakarta pada Jumat (20/2).
Shin adalah salah satu pihak yang mendorong program naturalisasi pemain untuk Timnas Indonesia. Itu terjadi saat PSSI masih dipimpin oleh Mochamad Iriawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemain-pemain awal yang diajukan Shin untuk dinaturalisasi PSSI adalah Jordi Amat, Sandy Walsh, dan Shayne Pattynama. Dua dari tiga nama ini sudah bermain di Super League.
Selain keduanya, ada beberapa nama lain yang juga telah main di Super League, seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, Mauro Zijlstra, Rafael Struick, Ivar Jenner, Jens Raven, dan Dion Markx.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa pemain-pemain ini memilih berkiprah di Indonesia. Pertama, karena usia sudah tidak muda dan mendapat tawaran. Ini seperti dialami Jordi.
Kedua, demi mendapatkan menit bermain yang lebih reguler. Situasi ini dialami pemain-pemain seperti Struick, Jenner, dan Zijlstra. Bagi pemain-pemain muda ini, jam terbang sangat penting.
Ketiga, sesuai target klub yang ingin berprestasi di pentas nasional dan kontinental. Haye dan Eliano bisa menjadi contohnya. Keduanya memilih gabung Persib karena main di Liga Champions.
Terlepas dari itu, apapun alasan pemain memilih tampil di dalam negeri, tidak akan mudah. Tanpa kerja keras, dedikasi, dan tekad, menit bermain reguler tidak akan didapat.
Hal inilah yang membuat STY tidak bersikap negatif atas keputusan pemain-pemain naturalisasi Timnas Indonesia bermain di Super League. Asal tetap disiplin dan kerja keras, hal tersebut tidak akan jadi masalah.
(abs/ptr)


















































